Mengenal Warisan Kolonial di Museum Kereta Api Ambarawa


Saya ngefans banget sama Kereta Api, bahkan ke Bandung atau mudik ke Brebes aja saya bakal seribu kali milih naik kereta ketimbang naik bus atau travel. Rasanya saya nggak nemu kesenangan duduk lama dalam bus, yang viewnya cuma jalan raya. Atulah jauh lebih asik naik kereta bisa liat yang hijau-hijau dong?! Katakanlah rejeki pelanggan setia, ketika saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, yang masih berada di Kabupaten Semarang ini dalam rangka acara #TravelingByTrain bersama PT. KAI dan Altour Travel. Jadi saya punya peluang untuk lebih mengenal sejarah perkeretaapian di Museum ini deh. Yeay!
Salah satu koleksi lokomotif di Museum Kereta Api Ambarawa
Museum Kereta Api Ambarawa ini salah satu museum yang punya banyak koleksi kereta api yang dulunya pernah berjaya di jaman penjajahan. Namanya juga masa lampau, jadi sudah pasti tekhnologinya sudah tertinggal. Eitsss, tapi kereta apinya masih berfungsi dengan baik loh?! Itulah alasan kenapa Museum Kereta Api Ambarawa kini dialih fungsikan menjadi destinasi wisata sejarah mengenai perkeretaapian.
Kereta api uap bergerigi menjadi primadona museum ini, karena kereta unik ini merupakan satu dari tiga kereta api uap yang tersisa di seluruh dunia (dua diantaranya terdapat di India dan Swiss). Dan lebih gokil lagi karena kami, ataupun kalian yang berkunjung ke museum ini bisa mencoba sensasi menaikinya secara langsung. Gokkss!!
Kereta api uap ini difungsikan sebagai kereta api wisata yang nantinya bakal membawa pengunjung ke Stasiun Tuntang dan kembali ke Stasiun Ambarawa. Kereta api uap tersebut menarik lokomotif bernomor seri B 2502 dan B 2503 yang di buat oleh Maschinenfabriek Esslingen, serta B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG. So, kalian yakin?! Mau melewatkan kesempatan menikmati sensasi naik kereta tua (kereta uap bergerigi) yang berbahan bakar kayu, dengan panorama keindahan alam Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu sepanjang perjalanan melewati jalur Ambarawa-Tuntang-Ambarawa?! Well, ada baiknya kalian masukin museum ini dalam wishlist deh 😀

Pintu masuk museum
Harap dicatat nih!!
satu dari banyaknya lokomotif yang masih terawat dengan sangat baik
Ini dia sang primadona yang bakal mengantar kami berwisata sejarah
Ketika saya dan team #TravelingByTrain datang, terlihat banyak perbaikan yang dilakukan di museum ini. Keadaan museum terlihat jauuuh berbeda dari yang saya temukan di internet. Dan ternyata, memang terjadi renovasi besar-besaran pada bulan Juni 2013. Iyess, revolusi PT. KAI memang banyak terjadi 2 tahun belakangan ini, saya sebagai pelanggan setia jadi makin cinta deh! Di salah satu sudut stasiun, terdapat lorong yang memajang sejarah panjang serta perkembangan perkeretaapian Indonesia, mulai dari jaman penjajahan hingga tahun 2015. Dari uraian tersebut semakin terlihat bahwa revolusi PT. KAI terjadi secara pesat mulai tahun 2012 lalu yakni pada kepemimpinan Bpk. Ignatius Jonan.
Sedangkan Ambarawa dulunya pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda merupakan sebuah kota militer. Raja Willem I memerintahkan pembangunan stasiun kereta api ini, yang bertujuan untuk mengangkut tentaranya menuju ke Semarang. Maka pada 21 Mei 1873, dibangunlah stasiun kereta api Ambarawa di atas tanah seluas 127.500 m². Namun pada awalnya stasiun ini dikenal sebagai Stasiun Willem I. Bangga rasanya bila menyaksikan warisan-warisan dari kolonial di museum ini masih dijaga dengan sangat baik.
Kabar baik lainnya, mulai Mei 2015 perjalanan kereta wisata rute Ambarawa-Tuntang akan berangkat hingga 3 kali keberangkatan yakni pada pukul 10.00, 12.00 dan 14.00 setiap hari Minggu dan juga hari libur nasional. Dengan harga tiket yang dibandrol 50ribu, kalian sudah bisa menikmati kereta api uap yang merupakan warisan dari jaman kolonial ini.
Jangan coba menyamakan sensasinya dengan naik Argo Parahyangan atau jenis kereta masa kini lainnya. Karena kereta tua yang berbahan baku kayu jati ini memiliki lokomotif yang bernuansa vintage abis. Hebatnya bukan hanya bahan bakunya aja yang dari kayu, namun seluruh bagian loko, mulai dari kursi penumpang, bagasi serta jendela yang terbuka tanpa kaca. Dan gak habis fikir kok cuma kayu tapi bisa keker banget yaaaaa?! 
Stasiun Ambawa berada beberapa meter dari pintu masuk ini
Pada jaman dulu, karena nggak bisa mundur, kepala loko diputar dengan tenaga manusia di atas lubang ini. Warbiasak!
Di dalam salah satu gerbong yang ditarik kereta uap, vintage banget kan?! Suka!
Lewat Rawa Pening, Horeeeeee!
Kami bangga dengan Kereta Api Indonesia, kalian gimana?!
Kak Trinity juga hobby naik kereta loh, semoga next ada yang sleeper ya kak?! 😀
All team Traveling by Train VI
I <3 AMBARAWA!
Jendela loko yang terbuka tanpa sekat membuat saya dan teman-teman lainnya menjadi semakin nikmat menghirup udara dari luar, sekaligus semakin leluasa untuk mengambil gambar yang ciamik. Karena dalam rute Ambarawa-Tuntang, secara surprise ternyata jalur ini melewati Desa Wisata Rawa Pening yang berlegenda dan juga telah lama jadi wishlist saya. Yaaa meskipun hanya melewatinya, tapi paling tidak saya jadi makin semangat buat beneran datang ke sana nantinya. Amin (Baca Juga: Wisata Sejarah Menyenangkan di Kota Semarang)
Semakin banyak fakta-fakta unik yang sulit diterima akal sehat tentang sejarah perkeretaapian yang saya dapatkan, misalnya bagaimana cara mengangkut semua kereta-kereta tua ini dari sana?! Serta tentang memutar kepala kereta dengan cara manual (diangkat tenaga manusia) karena dulu kepala kereta nggak bisa mundur. Tapi hal itu membuktikan bahwa memang manusia bisa semakin cerdas dan kreatif dalam sebuah keterbatasan. Sepulang dari event perayaan ulang tahun PT. KAI yang ke 70 kemarin, membuat saya jadi kepingin banget ke Belanda. Saya penasaran, apa yang bikin warisan-warisan dari mereka ini menjadi longlast dan tangguh?! Hmmn kalian tau nggak?!

Ps: All Photos taken with Olympus E-PM2

26 Comments

Add yours
  1. 3
    Anonymous

    Tapi kabarnya naik kereta ini mahal ya Mbak ongkosnya? :hehe. Eh tapi di atas ada berita tiket cuma Rp50k. Hmm, kayaknya berita yang saya dapat soal menyewa kereta ini mesti merogoh kocek sampai jutaan agaknya kurang tepat ya :haha. Seru Mbak kalau naik kereta tak berjendela begitu, serasa kembali ke dekade-dekade terakhir abad ke-19 :hehe, seperti nona-nona baru pulang dari main-main di perkebunan. Salut dengan PT KAI yang terus berbenah menjadi lebih baik. Semoga sutau hari bisa jalan ke sana :amin.

  2. 4
    Lynn

    seru bangeeet! Agustus kemarin ke sana tapi udah ketinggalan jadwal kereta lokomotif jam 14 itu huks jadinya cuma keliling2 aja deh sama foto-foto.

    harus ke sana lagi nih!

  3. 11
    noerazhka

    Ah, syuka kereta juga ternyata Si Putri ni ..
    Saya salah satu yang bernafas lega ketika akhirnya Museum Kereta Api di Ambarawa kembali dibuka untuk umum, setelah sekian lama renovasi. Ditambah lagi, kereta wisatanya udah jalan, meski rutenya ngga ke Stasiun Bedono lagi. Asik asik. Harga tiket 50K IDR worth it lah ya, Put .. 😀

  4. 15
    Putri Normalita

    Iya, suka bangeeet kak ijaaah :3
    keliatan banyak banget perubahannya kok, jadi makin keren. Untuk rute yg Bedono kayaknya nggak untuk umum deh kak, tapi ke Tuntang aja udah asik banget… worth it banget!

  5. 19
    Evi

    Naik kereta bersejarah begini senangnya dobel ya, Mbak Put. Jalan-jalan dengan kereta sambil membayangkan gimana dulu mereka beroperasi. Duh itu loco diputar pakai tenaga manusia, entah butuh berapa orang ya…

  6. 21
    Anggi Agistia

    Aku juga ngefans banget naik kereta api Kak Put, dulu Bandung-Surabaya lebih naik kereta daripada pesawat padahal harganya nggak jauh beda hihi. Tapi aku belum kesampaian naik kereta wisata, Kak Put.
    Sekarang mah boro-boro naik kereta, di Bangka kan nggak ada 😐 sekalinya mau ke Yogya, Semarang, atau Surabaya cari alternatif transportasi yang cepet ya pake pesawat, ngejar waktu cuti sih 🙁

+ Leave a Comment