Gunung Bromo: Menikmati Jutaan Bintang di Pananjakan 1 dan Hangatnya Pagi di Bukit Cinta


Pertama kali datang ke Gunung Bromo yang super famous ini, saya gagal menyaksikan sunrise karena pagi diselimuti kabut yang sangat pekat. Kata mas yang berkali-kali datang memang agak sulit dan harus jodoh-jodohan, bahkan ia baru bisa mendapatkan sunrise bagus di Bromo ketika kunjungannya ke 4 kali. Untungnya saya nggak perlu nunggu selama itu, kunjungan kedua kali bersama team Sapta Nusantara bulan lalu berhasil memberikan pengalaman yang.. Ah tak terlupakan deh pokoknya. Makin percaya, kalau Bromo tidak pernah membosankan untuk disamperin.
Cukup trekking kecil aja kok untuk naik Bukit Cinta ini
Karena kebutuhan foto 50 peserta berbeda-beda (dan demi promosi pariwisata yang masimal), tim akhirnya dibagi sesuai dengan viewpoint dan waktu keberangkatan, jadi stock foto yang kami dapat bisa bervariasi. Saya dan Fahmi akhirnya memilih keberangkatan pukul 01.00 untuk mengabadikan bintang di Pananjakan satu bersama Ridho, Syukron, Griska, Bram, Adi, Ibo dan Uun. Butuh ijin khusus untuk masuk ke TNBTS ini ketika dini hari, karena umumnya baru dibuka pukul 3 pagi. Tapi Hamdalah, langit terlihat cerah dan pekerjaan kami dimudahkan Gusti Allah.
Kami yang meninap di Bromo cottage (dan cuma tidur 2 jam) nggak butuh waktu lama untuk tiba di Pananjakan 1 melalui jalur Pasuruan yang jalanannya lebih berkelok-kelok ini. Waktu kami tiba hanya ada satu warung yang belum buka secara sempurna, sepi abissss! Bahkan mau pipis ajah bingung karena toilet belum ada yang buka. 
Mereka yang para fotografer handal, langsung sibuk dengan settingan kameranya masing-masing, sedang saya hanya meringkuk mencoba melawan dingin yang menusuk tulang. Biarlah si Mas saja yang berjuang mendapatkan stock foto, toh kamera saya yang sederhana gak mampu menangkap hamparan bintang yang malam itu luar biasa banyaknya.
Gunung Bromo di kegelapan malam
Langti di atas Pananjakan viewpoint
Menjelang sunrise Pananjakan 1 mulai dipenuhi manusia
Jarak langit jadi terlihat begitu dekat, andai tiap malam bisa menatap mereka pasti tingkat frustasi di Ibukota bisa berkurang drastis. Fahmi dan yang lain tetap tidak berkutik dari kamera dan tripodnya, Pananjakan yang biasanya penuh sesak oleh pengunjung kini menjadi hening tanpa suara selain shutter kamera. Kami berkali-kali mengucap syukur karena pagi itu langit sangat cerah, padahal saat itu status Gunung Bromo sedang waspada sehingga wisatawan hanya boleh mendekat dengan jarak minimal 1 Km dari bibir kawah.
Menjelang pukul 3 pagi, Pananjakan view point mulai disesaki oleh para pemburu sunrise. Awalnya tidak masalah sampai akhirnya banyak orang yang menyalakan cahaya senter dan berfoto dengan blitz yang menyebabkan polusi cahaya yang sangat mengganggu, emang bisa ya foto bintang ato sunrise pake blitz, Mz, Mb?! Yaaah, mau gimana lagi… Waktunya kami melipir cari sarapan.

View cakeup dari atas Bukit Cinta
Finally punya foto selfie di Bromo xixixi
Viewnya bikin asik joget
Pukul 6 pagi tapi kami belum capek, jadi akhirnya menuju view point lain untuk mengabadikan Gunung Bromo yang sedang dramatis karena disertai ‘batuk’ kecilnya. Awalnya saya sempat males untuk naik ke atas Bukit Cinta, tapi karena penasaran akhirnya nik juga. Cuma butuh trekking kecil aja kok, kira-kira gak lebih dari 200 meter. Dan ternyata, viewnya beneran cakeeeep banget. Badan saya yang menggigil kedinginan langsung berasa hangat kena matahari di Bukit Cinta.

Langit yang biru, bukit-bukit hijau dan hamparan lansekap Bromo yang cantiknya gak abis-abis, bikin saya gak bisa menahan untuk tidak selfie, joget, nyani. Ini beneran loh, saya, kak Leony, Arif sama Ridho beneran nyanyi di atas bukit ini (karna dipaksa Mas Syu yang galak :p). Hhahah tunggu videonya yang masih digodok ya?! Xixi

Sebelum turun disuruh nyanyi dulu sama Mas Syu
Jarang-jarang bisa narsis sama calon papah ranger
Gunung Bromo memang menjadi destinasi paling populer di Jawa Timur, jadi nggak heran kalau tiap harinya dipadati wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara. Pun mereka pastinya gak akan merasa cukup untuk datang hanya satu kali. Sama halnya seperti Bali, banyak sisi dan cara untuk menikmati keindahan alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini. Mau ah kapan-kapan motoran sama Mas kesini 😀
Tidak hanya keindahan alamnya yang menarik wisatawan datang ke Bromo, namun juga keunikan dari Suku Tengger yakni suku yang hidup dan tinggal di sekitar Gunung Brahma/Bromo yang mereka percayai sebagai gunung suci. Gunung Bromo dan masyarakat Tengger merupakan salah satu bukti dari keragaman alam dan budaya yang berhasil menjadi Pesona Indonesia yang mendunia :’)

Perjalanan ini disponsori penuh oleh Kementerian Pariwisata Indonesia (indonesia.travel) dalam campaign Sapta Nusantara yang berlangsung selama 16 hari. Kalian dapat menyaksikan foto dan video perjalanan yang diabadikan oleh tim Sapta Nusantara di social media  Twitter serta Instagram melalui hashtag #PesonaIndonesia #SaptaNusantara

0 Comments

Add yours
  1. 9
    Deny Lestiyorini

    Hai Putri, karena aku pembaca yang baik, karennya aku meninggalkan jejak 😀 Salam kenal ya.
    Bromo dekat sekali dengan kota aku dibesarkan. Karenanya, memang Bromo tidak pernah membosankan. Fotonya bagus2 🙂

+ Leave a Comment