Dilema Danau Kaolin Belitung Yang Indah Tapi Malang


Ini bukan di Kawah Putih Ciidey apalagi Kutub Utara ;’)
Tiba dengan pesawat Citilink paling pagi di Kota Tanjung Pandan, saya dan Fahmi langsung segera menuju ke salah satu hotel budget di pusat kota. Motor yang akan kami gunakan untuk 2 hari mengexplore Belitung pun sudah bertengger disana. Beruntungnya hotel-hotel setempat tidak keberatan untuk kami melakukan early check-in (sekitar jam 8 pagi), selesai menaruh barang sebentar di kamar, kamipun berangkat. 
Hanya sekitar 15 menit dari lokasi hotel, kami akhirnya dapat dengan mudah menemukan danau yang saya sebut malang ini. Tanpa harus perlu tersasar karena memang lokasinya berada tepat di pinggir jalan. Jadi ternyata danau biru ini yang kami lihat dari atas pesawat pagi tadi?! Jika kalian sempat melihat dari jendela pesawat ketika lepas landas di pulau ini, kalian pasti akan langsung menemukan banyak lubang-lubang putih dan biru yang tersebar, dan danau inilah salah satu lubang tersebut. Danau Kaolin.
Danau besar yang berada di sisi kiri
Mungkin saja tanah ini dahulunya pernah subur dan gembur
Seluruh permukaan tanahnya berwarna putih
Banyak yang bilang kalau Danau Kaolin ini adalah saudara kembar dari Kawah Putih di Ciwidey, namun kenyataannya Danau Kaolin tidaklah seberuntung saudara kembarnya di tanah Jawa Barat tersebut yang sejuk dan dingin. Karena kecantikan Danau Kaolin adalah salah satu wujud alam yang sudah dirusak. Sesuai namanya, Danau Kaolin merupakan danau yang terbentuk di area-area bekas penambangan kaolin atau clay yang menjadi salah satu kekayaan tambang Belitung. 
Kaolin sendiri adalah salah satu bahan baku untuk industri yang berupa batuan atau lempung berwarna putih. Kaolin dapat digunakan untuk pembuatan keramik, obat-obatan, kertas berlapis, kosmetik, dan pasta gigi namun kebanyakan digunakan untuk pembuatan porselen. 

Tidak seperti di Kawah Putih Ciwidey yang dingin, di Danau Kaolin justru terasa sangat panas dan lembab
Ada beberapa mesin besar yang bekerja
Jadi benar ya, cantik itu melukai?!
Papan peringatan untuk tidak berenang di danau
Ketika kami datang, terlihat beberapa rombongan yang sedang berfoto bersama dengan sumringah dan antusias. Berbeda dengan saya yang sebelumnya sudah riset dan dijelaskan oleh Fahmi. Dia berkali-kali bilang bahwa “Ini alam yang dirusak, kasihan” Pun akhirnya membuat saya jadi nggak bisa seantusias turis-turis tersebut. Sisa penambanganlah yang menghasilkan kombinasi bebatuan putih dan air danau biru toska di danau ini, yang juga membuat saya merasa dilema untuk menulis dan membaginya di blog.
Danau ini belum resmi jadi objek wisata, jadi tidak ada tiket masuk yang diminta. Berada di sana memang tidak ada bau atau senyawa kimia berbahaya yang tercium di udara layaknya belerang. Namun sama halnya dengan penambangan timah, tanpa ada tindak rehabilitasi kerusakan akan menjadi lebih parah ketika kegiatan tambang ini juga mengotori aliran sungai-sungai besar di Belitung.
Meski bukanlah tempat wisata, Danau kaolin banyak di kunjungi turis
Disamping menjadi kerusakan alam, Danau Kaollin memiliki magnet dari sudut pandang fotografi 
Contoh kecantikan dari salah satu wujud alam yang sudah dirusak.
Di seberang jalan terdapat tumpukan Kaolin yang menjulang tinggi
Seperti berada di Bulan?!
Hanya bisa berharap semoga Pemda segera bertindak atau bahkan langsung Menteri Energi :’)
Keindahan semacam ini, entah harus disyukuri atau bagaimana, saya sendiripun bingung. Rasanya nggak ada habisnya jika berdebat mengenai pertambangan. Satu sisi manusia membutuhkan energi alam untuk dapat bertahan hidup, namun disisi lain pertambangan menimbulkan kerusakan lingkungan jika tidak kembali direhabilitasi. Manusia secara cerdas mendapatkan energi, sekaligus menjadi virus paling berbahaya untuk melukai bumi.
Silahkan datang menikmati keindahannya, namun setelah itu, mari menulis mengenai fakta yang menghantui Negeri Laskar Pelangi ini. Let’s Save Belitong!


Ps: All Photos taken with Olympus E-PM2

19 Comments

Add yours
  1. 1
    muhammad akbar

    Danaunya benar-benar keren.
    Di Kalimantan juga pernah ada liat seperti ini tapi tidak sekeren Danau Kaolin.

    Seba salah jadinya, tapi kalau saya ke Belitong, saya juga pengen kesana.

  2. 2
    wihikan mawi wijna

    Nggg… setahu aku segala macam aktivitas penambangan, entah itu kaolin, emas, pasir, batu bara, timah, dsb pasti ya ujung-ujungnya bakal merusak alam Put. Dan usaha untuk merehabilitasi bekas lahan tambang itu lumayan sulit, lama, dan perlu dana yang nggak sedikit. Makanya sedih juga melihat bekas-bekas tambang yang terlantar karena mungkin ya para penambang nggak ada kemauan untuk merehabilitasinya.

    Kok mendadak aku jadi inget sama tanggul lumpur Lapindo ya? Kan banyak juga tuh yang "berwisata" ke sana. Padahal semestinya itu kan bukan obyek wisata ya? Apa karena pemandangannya unik sama seperti danau kaolin ini ya? Ada baiknya sih kalau mau dibuat wisata hanya beberapa danau saja. Sedangkan yang lain direhabilitasi.

  3. 5
    Putri Normalita

    Tapi aku diceritain Fahmi ttg lokasi tambang yg dia datengin, mereka melakukan rehabilitasi dengan baik wi. Lagipula hasil tambangkan pasti punya untung gede, kalau newmont aja bisa kenapa yg lain enggak ya?! 🙁

    Kayaknya perlu ada analisis tentang hal-hal yg bikin orang tertarik datang ke suatu tempat, Lapindo jelas bukan tempat wisata tapi banyak yg datang. Jawabannya cuma 1, penasaran. Iya gak sih?! heheh

    aku setuju, yg lain rehabilitasi, tempat wisata cukup 1 danau kaolin aja.

+ Leave a Comment