Desa Sade, Dusun Sasak Penuh Tradisi Dan Kreativitas


Kembali menginjakkan kaki di Pulau Lombok untuk kesekian kalinya, hidup memang selalu penuh dengan kejutan yang tak terduga. Kunjungan pertama dan kedua hampir 3 tahun lalu semasa pacaran sama mas beb, kunjungan ketiga ketika Backpackmoon, sedang kunjungan kali ini berkesempatan untuk ‘kerja’ dan berkolaborasi bersama. Asik ya?! Hamdalah deh kak, paling enggak saya jadi bebas tugas masak dalam 2 minggu. Ehehee
Banyak banget yang ingin saya bahas tentang pesona pulau yang satu ini, tapi kayaknya nggak cukup hanya dalam satu post karena saking banyaknya cerita dan informasi yang ingin saya bagi. Mahmud orangnya memang suka berbagi *ditoyor*. Kali ini saya ingin membahas salah satu desa wisata di Lombok Tengah, yang pesona dan keunikannya sangat harus kalian tahu. Sebenarnya ada tiga desa wisata yang kami kunjungi di Bumi Mandalika ini, tapi sabar ya, semua pasti saya tulis.
Ibu salah satu warga Desa Sasak yang sedang serius menggulung benang
Bernama Desa Sade, desa wisata yang satu ini bakal memberikan pengunjungnya pengalaman unik dengan melihat dari dekat kehidupan sehari – hari suku Sasak, yakni suku asli yang mendiami Pulau Lombok. Nggak perlu khawatir, karena lokasi Desa Sade berada tidak jauh dari Bandara Internasional Lombok. Saya dan tim #SaptaNusantara hanya membutuhkan waktu sektar 20-30 menit saja untuk mencapai desa ini. Desa Sade juga akan kalian lewati jika kalian menuju ke Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan.
Teriknya matahari Lombok tidak mengurangi atmosfir Desa Sade yang begitu tradisional, terdapat gapura besar yang berdiri sebelum memasuki desa. Ketika memasuki desa ini kami disambut oleh senyum dari para warga, ditemani dengan seorang guide asli penduduk desa kamipun diajak berkeliling kampung. Desa Sade memiliki luas kurang lebih 6 Ha dan saat ini ditinggali oleh sekitar 152 kepala keluarga. Hebatnya pemerintah daerah setempat bersama dengan pemangku adat desa sengaja mempertahankan keaslian adat istiadat lokal di desa ini. Sebagian besar warga Desa Sade hidup dari kegiatan bertani, pengrajin kain tenun ikat khas Lombok dan pengrajin cinderamata yang ampun bikin kami semua kalap belanja di sini.
Gapura yang berdiri di pintu masuk area desa
Rumah dan permukiman warga suku Sasak
Bagian dalam rumah suku Sasak
Tidak terdapat kursi dan sangat sederhana
Bale dalam yang terdapat kamar untuk bersalin
Saya sempat diajak masuk untuk melihat isi dari rumah adat suku Sasak yang begitu sederhana. Ukurannya berkisar 7 x 5 meter yang dibagi menjadi 2 ruangan berbeda (Bale luar dan Bale dalam). Bale luar merupakan area untuk menerima tamu sekaligus ruang tidur bagi laki- laki, sedangkan bale dalam adalah ruangan yang lebih privasi bagi suku Sasak, karena di bale dalam ini merupakan ruangan tidur untuk perempuan yang juga digunakan untuk persalinan atau melahirkan. Terdapat 3 anak tangga yang harus dilewati ketika memasuki bale dalam, jumlah anak tangga ini memiliki filosofi yang disebut Wetu Telu yang maknanya sebagai 3 tahapan hidup yaitu lahir, berkembang dan mati.

Rumah suku Sasak ini seluruhnya  masih terbuat dari bahan-bahan alami. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu sedangkan atapnya dari rumbia. Tapi yang paling unik adalah lantainya, yang secara rutin dilumuri oleh kotoran kerbau, katanya sih kotoran kerbau bisa membantu menutupi lubang-lubang lantai rumah. Tapi untungnya saya tidak mencium bau atau aroma kotoran kerbau selama berada di dalam rumah. Ajaib ya?!
Tradisi yang dimiliki masyarakat Desa Sade:

1. Meski dahulu agama islam yang dipeluk oleh Suku Sasak masih terpengaruh dengan agama Budha dan Hindu, kini penduduk Desa Sade telah menjalankan ibadah Sholat lima waktu

2. Terdapat tradisi dimana seorang pria yang ingin menikahi wanita, calon pengantin pria harus menculik wanita tersebut pada malam hari. Tradisi ini dianggap menghormati keluarga mempelai wanita serta dianggap romantis bagi mereka.

3. Seorang gadis suku Sasak belum diperbolehkan untuk menikah jika belum bisa menenun.

4. Terdapat beberapa kesenian khas Desa Sade yakni Gendang Beleq, Tarian Oncer dan Peresehan 

Bangunan lumbung padi yang menjadi icon desa ini
Bagian atap rumah adat suku Sasak
Hampir di setiap rumah terdapat kerajinan yang dijual para wanita suku Sasak
Salah satu kain khas Lombok yang sangat indah
Berbagai kerajinan dan aksesorisnya bikin ngiler banget TT
Kak Satya jadi yang paling banyak ngeborong. hihi cakep sik ya beb :’)
Nah, banyak banget fakta uniknya kan?! Ini baru tentang desa aja loh gengs, belum lagi hasil karya dan kerajinan yang dijual masyarakat Desa Sade. Puluhan helai kain berjajar rapi bersama dengan aneka cendramata khas Lombok yang sangat cantik ditawarkan hampir di setiap rumah yang ada di desa ini dengan harga yang sangat-sangat-sangat murah. Kayaknya nggak ada yang sanggup menahan hasrat belanjanya di sini, pun termasuk saya. Semakin setuju kalau keragaman alam dan budaya memang merupakan salah satu Pesona Indonesia. Yuk datang dan beli cinderamata unik khas Desa Sade!! 😀
Perjalanan ini disponsori penuh oleh Kementerian Pariwisata Indonesia (indonesia.travel) dalam campaign Sapta Nusantara yang berlangsung selama 16 hari. Kalian dapat menyaksikan foto dan video perjalanan yang diabadikan oleh tim Sapta Nusantara di social media  Twitter serta Instagram melalui hashtag #PesonaIndonesia #SaptaNusantara

0 Comments

Add yours
  1. 1
    Adie Riyanto

    Wuiiih, tahu gak, pas kita nganterin temen ke bandara, berharap banget bertemu kalian di Sade ini. Waktu itu dapat kabar kalian lagi makan. Mungkin di warung depan bandara itu. Eh, begitu baca, kita ternyata mendapat guide yang sama, dan bertemu, serta memotret nenek2 yang sama. Cuma, punyaku yg Sade belum ditulis. Baru sempet nulis Sukarara hehehe 😉

  2. 3
    Anis Hidayah

    Wah kangen akan suasana Desa Sade,,, aku kesini 2011 kemarin mbak,,, pertama kesini terkesan suasana desanya yang masih alami dengan adat dan istiadatnya masih tetap lestari,,, pokoknya kalau suatu saat nanti ada kesempatan ke Lombok lagi, pasti tidak melewatkan desa yang satu ini,,,,

+ Leave a Comment