Mewujudkan Mimpi di Taman Nasional Tanjung Puting


Taman Nasional Tanjung Puting sudah telah lama menjadi wishlist saya pribadi, bahkan lebih ingin kesini ketimbang Australia atapun Flores. Hobby yang suka banget nonton acara wild-life di TV menjadi salah satu penyebabnya, lalu keinginan semakin kuat ketika menamatkan buku Partikel karya Dee yang butuh waktu 1 tahun membacanya (memang sengaja gak mau cepet diabisin). Fahmi yang sedang bekerja di kantor, sudah sangat bosan karena tiap hari saya mengirimkan kalimat yang sama ke layar skype-nya:
Don’t miss anything here!

“Kapan ya ke Tanjung Puting?!”

“Pengen ke Tanjung Puting Mas,”
“Aku mau ke Tanjung Puting banget banget banget:(“
Kemudian jawaban “Pengen aja dulu” ternyata memang slalu punya kekuatan yang ajaib, konspirasi alam akhirnya membukakan jalan bagi saya untuk pertama kalinya menginjak Kalimantan. Karena ke Tanjung Puting akan sangat mahal jika berangkat sendirian, akhirnya saya yang punya pembuluh darah iseng inipun mengajak teman blogger si Kak Indri (yang memang anaknya gampang dikomporin :p) untuk bersama mencari masa. Tanpa butuh waktu lama, tetiba terbentuklah team #TanjungPutingSyalala yang beranggotakan Saya, Kak Indri, Kak Felicia, Kak Melanie dan Ima. Lalu berangkatlah kami berlima dari Jakarta dengan menggunakan jasa trip ke TNTP dari si Ayah muda Mas Indra @Bpborneo.
Mas Indra menjadi salah satu penyebab saya terus uring-uringan gak sabar untuk ke Tanjung Puting, karena pemuda asli Kalimantan ini selalu memention saya setiap upload foto Orang Utan di akun Instagramnya, atulah gimana saya nggak makin mupeng?! *jualannya jenius juga mz :|* Untungnya harga tiket menuju Pangkalan Bun tidaklah semahal ke Bali, dan makin seneng karena Kalstar menggunakan pesawat terbarunya Embraer seri E-195. Asa Allah sangat meridhoi perjalanan ini :))
Sebagian team #TanjungputingSyalala
Sekitar pukul  4 sore kami tiba di Bandar Udara Iskandar yang sangat mungil, lalu menginap di hotel yang berada di pusat kota namun dengan rate terjangkau, kami perorang cuma harus bayar 100K saja loh, dan ternyata kota Pangkalan Bun ini kecil dan juga tentram. Penerbangan dari Jakarta dengan Kalstar Aviation hanya ada satu kali setiap harinya, jadi butuh menginap semalam baru keesokan paginya dapat memulai explorasi ke taman nasional. Tapi kalau memang ingin instant bisa berangkat dengan Trigana Air yang memiliki flight pagi dari Jakarta, guide akan langsung menjemput di Bandara dan dapat langsung menuju TNTP.
Pukul 9 pagi sebelum tiba di Tanjung Puting National Park Harbour, kami ditambah Mas Indra (yang datang jauh-jauh dari Palangkaraya untuk nemenin) sama-sama penasaran dengan kuliner khas Kotawaringin Barat yang biasa disebut dengan Coto manggala, yakni berupa soto yang berbahan baku singkong. Awalnya sempet sangsi sama rasanya, tapi pas dicoba ternyata Endeeesss sodarah! >,<
Coto Manggala yang endeesss abes!
Kue Jorong
Kedai ini cukup rame, gak heran karna masakannya enak
Coto yang isinya singkong, telur dadar yang diiris tipis, mie soun serta pelengkap ceker ayam ini sama seperti soto pada umumnya yang berkuah gurih, tapi tetep unik karena isinya singkong rebus. Adalagi kue Jorong yang berbahan dasar santan dan tepug beras yang dibungkus dengan daun pandan. Karena mencicip kuliner setempat ketika traveling itu rasanya sangat wajib.
Selesai sarapan kami diajak mampir untuk melihat rumah adat khas Kalimantan, iya yang tinggi kayak panggung itu loh?! Rumah Betang ini terdapat diberbagai penjuru Kalimantan, tingginya bangunan Rumah Betang ini diperkirakan untuk menghindari datangnya banjir atau luapan sungai pada musim penghujan. Tanpa diberi aba-aba, gengges pun langsung mengeluarkan kamera untuk menjepret sana-sini. 15 menit berikutnya kami beranjak untuk menuju pelabuhan atau balai penyebrangan ke taman nasional. Huuurrraaaayyy!!

Rumah Betang
Tangganya lumayan ngeri karena sempit
Tapi keliatan adem banget 🙂
Finally, here we are

Senyum manis saya nggak pernah lepas ketika melihat Klotok yang nantinya akan kami singgahi selama 3 hari, telah bersandar di dermaga. Borneo’s Wild Life waiting for us dan siap untuk dijelajah. Perasaan ketika mimpi besar berada tepat didepan mata itu rasanya sulit banget untuk diterjemahkan, pun sepertinya blog ini akan dipenuhi dengan banyak blogpost tentang unforgettable moment di Tanjung Puting. Tunggu postingan selanjutnya yak! :)))))

Cerita perjalanan Tanjung Puting lainnya:

Gemes Melihat Pose-pose Lucu Orangutan Di Tanjung Harapan
Jelajah Sungai Berair Hitam Sekonyer
Mengenal Siswi Sang Primadona Camp Leakey

18 Comments

Add yours
  1. 1
    Beby Rischka

    Pukpuk Bang Fahmi yang ditinggal istri. Ngoahahah! 😛

    Eh tapi orang utan Kalimantan rada beda ya Put, sama orang utan Sumatera? Kayaknya lebih genmbul gitu. Ya ngga sih? ._.

  2. 2
    Putri Normalita

    Nggak usah di pukpuk kak beb, wong dianya juga kemarin lagi nonton Asia'a Got Talent di Johor T.T

    Aku belum pernah ketemu yg di Sumatera, tapi katanya yg disana jenisnya lebih langka daripada yg di Borneo. Semoga jodoh juga liat mereka di Sumatera yaa >,<

  3. 6
    Yudi Randa

    pertama, apa nggak kembung mbak makan singkong?
    kedua, kalau orang utan sumatera, setahu yudi sekarang memang rada2 susah di temui, paling2 miripan ama aku mbak.. hiks

  4. 11
    Agung Gidion

    Mas Indra, pian nampak lelah mungkin jalan kaki yak dari Palangkaraya..
    Jakarta kemana-mana ke jangkau yaak.. 🙁

  5. 13
    Agung Gidion

    Wooow, dedknya lagi di Kediri toh, bakalan berenang melintasi laut jawa dong dia, hahaha
    Staynya lagi perjalanan menuju kembali ke Jogja mbak Put.. 😀

  6. 15
    Agung Gidion

    Hihihihi..
    Bener juga sih. Tapikan lagi dalam perjalanan kembali ke Jogja mbak Put. Belum di Jogja, haha.
    Sadranan tebingnya habis roboh eh. Ngeri,

+ Leave a Comment