Jangan Hakimi Staff Bandara


Belum 1 minggu saya resign dari pekerjaan, saya sudah rindu bersibuk-sibuk ria. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya sempat menghantar keberangkatan Fahmi ke bandara Soekarno Hatta untuk melaksanakan tugas (red: traveling gratis) menuju Philippine, saya jadi memutar kembali memori ketika bekerja disana satu tahun lalu.

Saya bekerja di sebuah maskapai penerbangan swasta sebagai ground staff yakni sebagai ticketing 3 tahun lamanya. Saat ditawari untuk bertugas di Bandar Udara Soekarno-Hatta (karena sebelumnya bertugas dikantor pusat) tentu saya tidak menolaknya, saya mengambil kesempatan tersebut karena selain banyak ilmu salah satu alasannya adalah saya suka sekali atmosfer bandara.

Dan benar saja, memang banyak sekali ilmu yang saya dapatkan kala itu, pengetahuan seperti istilah-istilah Delay, Postpone, RTB (Return To Base), Bad Weather, OP(Over Pax) dan masih banyak lagi. Tapi pembelajaran yang paling penting adalah ‘Bagaimanakah kehidupan belakang layarnya?!’ Wahai passangger(traveler), perkara menerbangkan dan melayani kalian itu sungguhlah perkara yang sangat rumit, jadi mohon hargailah para staff-staff bandara jika terjadi keterlambatan atau hambatan lainnya.

Staff bandara juga butuh liburan 🙂 

Saya beri satu contoh kasusnya, jika kalian pernah mendengar bahwa ada Pilot yang arogan itu bukanlah sekedar gosip belaka. Flight siang itu akan diterbangkan oleh salah satu Pilot senior dimaskapai kami, karena suatu hal staff manifest terlambat mengirim data yang komplit sehingga membuat sang kapten murka dan tidak ingin menerbangkan pesawat sedangkan penumpang sudah berteriak dan memarahi para gate staff yang tidak berdosa.


Kemudian saya, yang notabene adalah staff ticketingpun bakal terkena imbas ngamuknya penumpang. Setiap hari bahkan tak terhitung saking banyaknya, selalu ada kasus yang menghambat penerbangan seorang penumpang kami. Yang paling sering adalah, jika yang berangkat adalah para Kuli bangunan yang akan dikirim kedaerah namun tidak didampingi dan akhirnya mengalami ketertinggalan pesawat. Jika waktu terbang ditiket adalah pukul 09.00 pagi, maka merekapun akan check-in saat itu juga ya tentu saja pesawat sudah lepas landas duluan. Kondisi tiket yang seperti ini tentunya sudah terkena cancelation fee sebesar 90% alias HANGUS!


Memang masih banyak sekali yang belum memahami betul prosedur terbang dengan pesawat, kadang kesal karena capek memang tapi bekerja disini haruslah sabar dan memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Saya sering tidak berdaya jika bertemu penumpang awam yang menangis-nangis karena tertinggal pesawat, bagaimana nggak nangis.. si Bapak paruh baya itu sudah mengumpulkan gajinya demi bisa pulang kekampung halamannya namun karena tidak mengerti dan salah menunggu diruang tunggu maka tertinggallah dia. Jika memiliki kasus seperti ini, penumpang biasanya kami arahkan untuk menemui staff CRO (Customer Relation Officer) itupun jika mereka tidak sibuk, lagi-lagi staff ticketinglah yang berjuang menghadap para atasan demi mendapat keringanan pembayaran untuk para penumpang yang malang semacam ini.

Tapi saya akan jauh lebih ikhlas melayani penumpang-penumpang awam semacam ini daripada penumpang yang arogan dan sombong, mereka jelas sudah mengerti prosedur namun menyepelekan aturan, beruang tapi nggak mau bayar tiketnya yang hangus. Pernah suatu kali saya bertengkar hebat dengan penumpang yang terlambat check-in dan mengaku sebagai Lawyer, si Mas-mas ini komplain dan menyalahkan antrian yang panjang di Check-in Counter. Saya menunjukan bahwa di tiket tertulis jelas harus ada dibandara dua jam sebelum jam keberangkatan, tapi si Mas ini batu sekali tidak mau mengaku salah. 

Saat melapor ke counter check-in staff kami akan memberi catatan waktu saat sang penumpang tepat berada di depan counter, jika melebihi batas waktu lapor baru  kemudian diarahkan menuju ticketing untuk diproses ke penerbangan berikutnya, jika schedule flight pukul 09.00 maka manifest akan menutup sistem pada pukul 08.15 secara otomatis sehingga tidak adalagi data yang bisa diinput lebih dari 08.15 kecuali staff manifest langsung. Saran dari saya jika datang pada last minute baiknya kita langsung menuju meja manifest yang biasa tertulis Help Desk maka disanalah staff manifest berada, namun jika sudah benar-benar close door ikutilah prosedur yang ada.

Kembali pada mas-mas yang mengaku lawyer yang ditiketnya tertulis 08.40 yang berati terlambat melapor check-in tadi, beliau mulai menggebrak-gebrak meja meminta bertemu dengan atasan, berteriak-teriak menunjuk saya dan teman-teman lainnya.

( foto diambil dari google ) Bisa tebak saya bekerja dimaskapai apa?? :p

“Kalian inikan bodoh, bego, cuma lulusan SMA yang gak ngerti sama hukum” kata-kata itu sungguh memancing emosi saya.
“Maaf pak, jika memang bapak terpelajar dan sudah sering terbang, harusnya mengerti prosedur dan bisa lebih sopan. Saya handle bapak baik-baik jadi mohon dipakai atitudenya. Terimakasih” (saya jugakan kuliah pak!!). Kemudian tangan kanannya masuk dan menarik kartu ID yang saya gantungkan dileher, semua teman berteriak dan senior laki-laki saya langsung memanggil security setelah itu saya tidak (mau) tahu lagi kemana si belagu itu dibawa.

Dicakar, dijambak, ditampar bahkan diludahi adalah rutinitas yang sudah sangat biasa dihadapi staff bandara, perdebatan biasanya terjadi ketika delay dan penumpang tidak mau mengerti alasannya. Kesal sekali rasanya jika ada penumpang yang marah-marah kena delay padahal itu demi keselamatan karena cuaca yang buruk. Satu lagi alasan mengapa pesawat dijakarta ini sering delay adalah karena sudah begitu padatnya lalu lintas pesawat di Bandar Udara ini, bahkan untuk take off saja pesawat harus bejejer antri di landasan terbang. *tragis*

Selain pintar menjelaskan dan merayu penumpang, kami juga harus mengenal sifat/perawakan dari setiap penumpang melalui tujuannya. Flight menuju indonesia timur seperti Ambon dan Makassar harus dihandle dengan sabar, pernah sekali penumpang dari Manado berhasil memecahkan kaca ticketing counter berkeping-keping hanya dengan sekali gebrak. Teman saya pernah cedera karena penumpang menusuk tangannya dengan pulpen, dan kasus berakhir dikepolisian dengan harus membayar denda 500.000 pada staff kami. *Bandara kerass men!!*


Atmosfer bandara yang (saya) kalian gemari itu sesungguhnya menyimpan banyak drama yang telah menguras tenaga dan kesabaran. Dedikasi seorang staff bandara yang bekerja tidak mengenal pagi, siang, malam, tanggal merah ataupun libur nasional haruslah dihargai, tidak terlalu banyak, hanya ikuti saja prosedur dan mengerti. Jika delay tanpa diberi SOG (Snack On Gate) itupun bukan sepenuhnya salah para ground staff, karena untuk mendapatkan SOG kami staff (serabutan)harus meminta Acc dari kordinator dan deputi yang pelit sama ttd. Hkssss Karena merekapun tidaklah memiliki daya apa-apa apalagi memesan 213 box nasi, baiknya kirim keluhan anda ke Customer Care, karena semua kesalahan dan kebobrokan sesungguhnya berada dalam management maskapai itu sendiri.

Dari pengalaman bekerja 3 tahun di bandara, alhasil saya jadi kurang menikmati suasana di bandar-udara terlebih Bandara Soeta. Saya jadi sering fokus melihat orang-orang yang terlihat kebingungan, bawaannya mau ngasih petunjuk padahal saya lagi nggak pake seragam. Huhuhuuu

28 Comments

Add yours
  1. 9
    Anonymous

    masyarakat kita masih banyak yg barbar… berarti keputusan saya tepat donk lebih baik nginep di bandara daripada bangun telat lalu tertinggal pesawat dan ngamuk2

  2. 10
    putri normalita

    Tapi banyak orang-orang kantor yang ngerti tapi suka seenaknya loh mas, kalo yang awam masih bisa dimaklumin nah yang pinter tapi arogan ini yang nyebelin.
    nginep dibandara ide bagus, better menunggu sedikit lebih lama daripada tiket hangus 😀

  3. 14
    Fahmi Anhar

    *manggut2 nyimak tsurhatnya putri*

    aku juga mau cerita dikit, paling sebel kalau dapat jatah flight pagi, dari mess sudah harus bangun dini hari, belum lagi kalau dapat teman-teman air crew yang ajaib atau senior yang songong dan gila hormat. ditambah dengan pilot yang kebanyakan ngatur ini itu. kadang ditambah dengan pax yang jahil dan banyak maunya…

    oiya, paling nggak enak kalau RON di Pekanbaru, nggak asik aja. gitu doang sih…

    *berasa pramugara* | *padahal bukan*

  4. 17
    Sumara

    Hmm…jd gitu ya prosedur di bandara…jd nambah pengetahuan nih, bersyukur sy gak pernah ketinggalan pswt….mslhnya ya..itu…takut tiketnya angus……hehe….

  5. 19
    Mike 142

    gak nyangka bisa kebetulan ketemu ini artikel 😀
    saya mantan staff manifest.. pernah satu ruangan juga sama Hardy 😀
    sekarang Hardy udah di pusat, mungkin agak sombong nanti hehehehe

  6. 21
    Anonymous

    saya juga suka sekali dengan atmosfer bandara. btw, seneng nemu postingan ini 🙂 jadi tau ternyata kerja sebagai staff bandara gak seenak dan semudah yang saya bayangkan

  7. 23
    ira nur khumairah

    Dg segitu bnyaknya rintangan n cobaan:'D
    groundling staff itu digaji brapa sih?
    trus ada hal yang paling mnyenangkan nggak di pkerjaan itu?

  8. 25
    daniel dewa

    halo, mau nanya emang selain di ticketing harus pinter menanganin tamu gitu ya ? januari mau pkl di ticketing, tapi nyari di office gitu, di bandara itu tekanan nya banyak ya kalau ticketing nya ?

+ Leave a Comment