Perpustakaan Nasional RI vs. State Library of Victoria

4/09/2018 09:16:00 PM

Penampakan gedung utama Perpusnas
Entah kenapa saya selalu suka ketika berada diantara banyak buku, baik dipake buat serius baca atau cuma liat-liat gambarnya. Makanya saya pengen banget punya perpustakaan pribadi yang super nyaman suatu saat nanti di rumah. Dimulai waktu SMP, saya sampe ce-es banget sama penjaga perpustakaan sekolah saking seringnya main ke perpus saat jam isirahat. Hingga berlanjut disetiap jam pulang kantor saya sering mampir ke Gramedia, berburu buku atau komik yang plastiknya kebuka hahaha. Jadi kesempatan datang ke sebuah perpustakaan nasional milik sebuah negara merupakan bagian dari mimpi. 

Dan akhirnya mimpi itupun terwujud dengan datang ke Perpustakaan Nasional RI beberapa waktu lalu, bahkan  sebelum itu saya sudah sempat berkunjung ke State Library of Victoria ketika sedang berada di Melbourne, iya.. Perpustakaan yang begitu memesona itu loh! Sungguh menjadi kebahagiaan yang tak terperih, saya bagaikan anak kecil yang girang karena menemukan mainan kesayangannya xixixixi

Jadi kali ini saya mau membagi cerita tentang pengalaman berkunjung dikeduanya. Awalnya saya mau mereview tentang Perpusnas saja, ealah tapi ternyata saya belum pernah menulis tentang State Library of Victoria, jadi boleh ya ditulis disini sekalian?! Sambil menyelam seruput milkshake, Ntaap djiwa... 

Perpustakaan Nasional RI

Penampakan gedung utama
Jadi yang bikin saya semakin penasaran dengan Perpusnas kebanggaan negara kita ini, karena belum lama memiliki gedung baru yang menjadikannya perpustakaan tertinggi di dunia! Dan alasan yang paling kuat, karena mereka punya perpustakaan zona anak yang super nyaman. Maka saya angkutlah anak serta bapaknya kesini. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI baru didirikan pada tanggal 17 Mei 1980, yang merupakan gabungan dari empat perpustakaan yang telah ada sebelumnya. Yaitu Perpustakaan Museum Nasional (semula Bataviaasch Genootschap van Kunsten Wetenschapen), Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial, (semula perpustakaan Sticusa), Kantor Bibliografi Nasional; dan Perpustakaan Wilayah (Negara) Jakarta. Walaupun secara resmi Perpusnas berdiri pada pertengahan 1980, integrasi secara fisik baru bisa dilakukan pada Januari 1981. Saya yang anak IPS aja baru tau loh, kalau ternyata perpusnas punya sejarah yang panjang. Huhu shame on me.

Pintu masuk menuju gedung utama perpusnas masih berupa bangunan tua yang terlihat begitu klasik dan khas seperti balai kota atau museum-museum di Jakarta. Dan ternyata isinyapun memang sebuah museum yang memajang banyak benda bersejarah berupa lukisan, bibliografi serta foto-foto bersejarah. Saya sempat melihat beragam koleksi yang menunjukkan transformasi media yang dipakai untuk menulis sebelum kita dapat menggunakan kertas. Kemudian kami bergegas ke gedung utama yang di depannya udah rame pengunjung yang pose di depannya, maebo sama Raka gak mau ketinggalan dong hehehe. Ketika masuk pengunjung akan langsung melihat sebuah rak buku raksasa yang sangat tinggi, juga nampak semacam lobby yang terdapat banyak tempat duduk yang disediakan untuk membaca. Kalau tertarik baca, segera hubungi pustakawan/petugas untuk minti diambilin bukunya ya gengs.

Rak buku yang menjulang hingga lt. 4
Bagian anak-anak ini super Pueweeee bingit!
Kami tiba ketika jam makan siang, maka yang pertama ditanyakan sama pak satpam tentu saja letak kantinnya xaxaxxa. Kantin yang mirip cafetaria ini berada di lantai 4, menyediakan beragam menu masakan lokal seperti gado-gado, soto dan nasi rames. Selesai memenuhi kebutuhan gizi, kami langsung menuju lantai 7 dimana Ruang Layanan Anak berada. Baik Raka maupun mamak-bapaknya sungguh bahagia bagaikan menemukan habitat baru yang super nyaman. Jadi jangan heran ya kalau kami berada disini hingga menjelang sore. Mahahhahaa

Fasilitas
Lantai 1: Lobi Utama
Lantai 2: Ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater
Lantai 3: Zona Promosi Budaya Baca
Lantai 4: Ruang Pameran Koleksi Perpustakaan
Lantai 5: Ruang Pustakawan
Lantai 6: Data Center 
Lantai 7: Layanan Anak, Lansia, dan Disabilitas
Lantai 8: Layanan Audiovisual
Lantai 9: Layanan Naskah Nusantara 
Lantai 10: Layanan Deposit 
Lantai 11: Monograf Tertutup
Lantai 12: Ruang Baca Pemustaka 
Lantai 13: Layanan Repositori Terbitan Karya Indonesia
Lantai 14: Layanan Koleksi Buku Langka 
Lantai 15: Layanan Referens 
Lantai 16: Layanan Koleksi Foto, Peta, dan Lukisan 
Lantai 17-18: Kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia 
Lantai 19: Layanan Multimedia 
Lantai 20: Layanan Koleksi Berkala Mutakhir dan Bidang Ilmu Perpustakaan
Lantai 21-22 Layanan Monograf Terbuka 
Lantai 23: Layanan Koleksi Bangsa-bangsa di Dunia dan Majalah Terjilid
Lantai 24: Layanan Koleksi Budaya Nusantara, Executive Lounge dan Ruang Penerimaan Tamu Mancanegara 

Untuk membuat kartu anggota, kalian bisa datang langsung atau daftar secara online disini.Yang amat sangat disayangkan, perpusnas kebanggaan kita ini (menurut saya) masih sangat sepi untuk ukuran sebuah perpustakaan nasional. Jadi bagi yang baca blogpost saya yang satu ini, yuk ajak kerabat dan keluarga untuk datang. Apalagi yang letaknya bersebrangan dengan Monas, bisa jadi kegiatan seru tambahan ketika sedang berlibur loh. Bawa bayi juga boleh banget loh moms, karena saya menemukan Nursery yang bisa dipake untuk menyusui di dalam Ruang Layanan Anak. Pokoknya mari budayakan membaca dan mencintai perpustakaan.

Jam Operasional
Senin-Jum'at 08.00 - 18.00 WIB
Sabtu 08.00 - 16.00 WIB
Minggu 08.00 - 16.00 WIB (Khusus Layanan Terbuka)
Fasilitas Layanan Perpustakaan Locker, Internet, Hot Spot, Foto copy dan Pindai (scan)

Lokasi : Jalan Medan Merdeka Selatan 11, Jakarta Selatan
Situs web: http://ppid.pnri.go.id/
Telp: 0800-1-737787, SMS 0822-67022-900

The State Library of Victoria

Keindahan State Library of Victoria dari halaman depan
State Library of Victoria menjadi salah satu perpustakaan terbesar di dunia, yang terletak di sebelah utara jantung kota Melbourne. Melihat bangunannya yang begitu megah, saking indah bentuk bangunannya saya rasa yang anti bukupun bakal tertarik untuk datang kesini. Didirikan pada 1854 State Library of Victoria menjadi saksi perkembangan kehidupan khas budaya Victoria hingga saat ini. Koleksi perpustakaan ini tak hanya sebatas buku melainkan juga berperan sebagai museum yang memiliki fitur pameran menarik serta catatan sejarah penting Victoria serta budaya Melbourne. 

Beda dengan Perpustakaan Nasional di Indonesia, perpustakaan ini ramainya bukan main. Gak heran kalau perpustakaan ini selalu dipenuhi pembaca, karena Melboune sendiri memang dikenal memiliki banyak universitas yang bergengsi. Makanya, Melbourne bisa dapet gelar dari UNESCO sebagai City of Literature. Para pelajar dan mahasiswa kota Melbourne mendominasi dengan memenuhi reading room megah yang terletak di tengah bangunan. FYI, setiap pukul dua siang, ada tur gratis mengelilingi perpustakaan ini

Memang harus diakui yaa.. bahwa budaya membaca negara kita tertinggal jauh apalagi dibandingkan dengan negara semaju Australia. Pengunjung yang datang dapat memilih buku yang ingin dibaca lewat fasilitas komputer yang tersedia, tapi karna waktu saya datang antri bangeeeeet saya jadi gagal untuk membaca deh. Alih-alih belum tentu bisa datang lagi kesini, saya memilih untuk mengamati dan menikmati keindahan perpustakaan yang tak terperih ini. Banyak yang bilang kalo State Library of Victoria ini adalah perpustakaan yang paling fotogenik, dan saya sangat setuju! Apalagi ketika kami memasuki La Trobe Reading Room yang berbentuk oktagonal, Masyaallah Syurgaaaaahhhh!

View La Trobe Reading Room dari lantai atas

OMG, I miss this momment!(6 Months of pregnancy)
Ruang Baca di State Library of Victoria
1. The Dome
2. Ruang Baca Catur
3. Ruang Baca Redmond Barry
4. Ruang Baca Koleksi Sejarah
5. Ruang Baca Koleksi Seni
6. Ruang Baca Genealogi
7. Ruang Baca Surat Kabar

Gak hanya bangunan serta koleksi buku-bukunya yang menarik, tapi juga halaman rumput di depan pintu masuk perpustakaan di Swanston Street juga gak kalah menarik. Rumput hijaunya menjadi tempat makan siang yang populer bagi para pekerja dan mahasiswa. Awalnya dulu sempat tertutup oleh pagar namun diubah menjadi ruang terbuka serta pembuatan jalur diagonal pada tahun 1939. Pokoknya atsmosfer perpustakaan yang satu ini menyenangkan sekali, bikin pengen punya rumah dibelakangnya kbiar bisa dateng setiap hari. Atau balik jadi mahasiswa di kampus didekatnya, semoga Caraka bisa sekolah di Melbourne ya besar nanti! Ameeeennnnnn!!!!

Jam Operasional
Jam buka : Setiap hari, Senin-Kamis 10.00-21.00; Jum'at-Minggu 10.00-18.00 
Lokasi : 328 Swanston St, Melbourne, Victoria, 3000
Situs web: www.slv.vic.gov.au
Telp: 61 03 8664 7000

***

Agak kekanank-kanakan (nggak) sih kalau membandingkan perpusnas kita dengan perpustakaan sekelas State Library of Victoria. Tapi saya bukan ingin membandingkan kemegahan atau kecanggihan dari keduanya, melainkan 'nafas' atau kehidupan di dalamnya. Supaya apa?! Supaya yang baca artikel ini jadi envy terus mikir "Mau ah sering dateng ke Perpustakaan (nasional), biar gak kalah rame sama rak buku negara tetangga". Gak usah nyinyirin tentang usaha negara memperbaiki fasilitasnya, lu sendiri pernah dateng ape kagak?! Hehehe

Buibuk juga boleh banget bawa anak-anak untuk datang ke Perpustakaan Nasional tercinta kita, bisa jadi refrensi kegiatan Outdoor yang bermanfaat banget. Kalau ada yang komplen "ke Perpus kok bawa anak?" Jawab aja "Ya kalau anak-anak gak ada yang datang lagi ke perpus, situ mau tanggung jawab?" Sekian informasi yang dipenuhi oleh curhatan emak-emak kali ini hahhaah, keep (love) reading guys!!

You Might Also Like

8 komentar

  1. Aduh itu pengen gitu seharian quality time di perpus. Kalo boleh sambil tidur-tiduran sambil baca juga. Aduh surga bener itu mbak put.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Gallant, kalo ke Jakarta main ke perpusnas yaaaa

      Delete
  2. dan misiku datang ke perpusnas pun terwujud, Alhamdulillah. Bisa foto sama rak tinggi yang fenomenal itu juga. Sayang ngga sempat lama karena anak-anak keburu bosen, hikss sedihhhh. Next bakal sering datang ke perpusnas ahh, belum sempet bikin kartu anggota karena keburu abis kuotanya.

    Setujuuu banget, anak-anak itu harus dikenalin sama perpus atau buku. Biar wawasannya ngga mentok cuma di Mobile Legend, Candy Crush, etc :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asiiikk banget kalo bisa sering, aku ke jakarta aja jarang huhu
      bener bangeeeet mbak hahaha biar terbiasa sampe dewasa gitu jadi gak asing-asing banget liat banyak buku yaa :D

      Delete
  3. blom pernah ke dua-duanya, dulu pas ke Melb cuma mampir depannya doank ga sempet masuk T_T

    btw itu foto hamil 6 bulan kok kayak aku pas lagi kekenyangan makan ya *sirik* wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhaha Ditaaaa paling bisa deh, ku menantikan babymoon versi kamu sama bojo yaaaa. Itu bisa jadi alasan buat balik lagi ke Melb nanti yes

      Delete
  4. Aku baru tahu kalo Jakarta punya perpustakaan gedhe dengan fasilitas ok begitu. Ntar kalo ke Jakarta mampir ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak dini, ayoo mampir! Jangan lupa direview yes :D

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak :)

Member Of