Wisata Sejarah Menyenangkan di Kota Semarang

11/29/2015 02:36:00 PM

Kelenteng yang indah dan penuh sejarah
Alhamdulillah, destinasi kunjungan tim Sapta Nusantara yang kedua setelah Lampung ternyata Beijing nih guys. Tapi Beijingnya ala kota Semarang alias Kelenteng Sam Poo Kong. EHhehe *ditampol* Tapi kalian pasti setuju, karena dua kali saya datang ke kelenteng ini yaa rasanya tetep sama, bukan rasa kota Semarang lagi melainkan kek lagi berada di Beijing. Bangunan serba merah menyala berdiri gagah mengelilingi, membuat siapapun penasaran dengan sejarah dan asal mula bangunan ini berdiri di kota Lumpia.

Kami datang disambut dengan hari yang sepertinya kelewat cerah, entah ada apa dengan Semarang.. Saat itu panasnya luar biasa banget. Tapi meskipun harus mandi keringet kami tetep seneng sih, karena jadi bisa dapet foto yang bagus di segala sisi kelenteng. Yanamanya juga kerja cyiiiin, harus totalitas! Sejak renovasi besar-besaran pada tahun 2002 hingga 2005, Sam Poo Kong mendadak menarik banyak orang untuk datang berkunjung.

Kelenteng Sam Po Kong yang kini menjadi destinasi wisata andalan Kota Semarang ini dahulunya merupakan bekas tempat persinggahan atau pendaratan pertama seorang Laksamana Zheng He/Cheng Ho yang sedang berlayar melewati laut jawa, namun saat melintasi Laut Jawa, ada banyak awak kapalnya yang jatuh sakit, kemudian ia memerintahkan untuk membuang sauh. Kemudian merapat ke pantai Utara Semarang untuk berlindung di sebuah Goa dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. 

Meskipun menjadi destinasi wisata, kelenteng ini tetap difungsikan sebagai tempat untuk beribadah
Salah satu bangunan yang memiliki pintu raksasa
Bagian inti dari kelenteng Sam Poo Kong
Bangunan inti dari kelenteng Sam Poo Kong dahulunya adalah sebuah Goa Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas, namun Goa tersebut telah tertutup longsor pada tahun 1700-an, kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho. Bangunan tersebut kini telah berada di tengah kota Semarang dikarenakan pantai utara Jawa yang selalu mengalami proses pendangkalan sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah Utara. Dikarenakan Laksamana Cheng Ho beragama Islam, membuat tempat ini banyak dikunjungi oleh pengunjung yang beragama Islam, serta para turis yang datang dari China.

Meskipun panasnya cetar membahana, tapi suasana kelenteng hari itu terdengar jauh lebih ramai dari kunjungan saya sebelumnya. Sumber keramaian ternyata berasal dari rombongan adik-adik SD yang sedang studytour, dan semakin meriah ketika saya sadar bahwa Mas Syukron dan teman-teman videographer lainnya mengajak mereka untuk bernyanyi bersama. Untungnya guru mereka gak ngeri dengan tampang team kami yang mulai kucel karna matahari. hhahha

Lawang Sewu, aku kembali
Lawang Sewu yang lawangnya gak ada seribu -,-
Datang ke Semarang gak sempurna kalau nggak mampir ke bangunan yang super fenomenal ini, Lawang Sewu. Siapalah yang belum pernah denger Lawang Sewu ini ?! Kalau bukan dari buku sejarah di sekolah, ya tentu saja dari acara televisi semacam Uji Nyali di tempat ini. Kepopuleran Lawang Sewu ini menurut saya malah jauh melebihi dari museum-museum yang berada di Jakarta. Meskipun terkenalnya dengan cerita-cerita horor dan mistis, Lawang Sewu tetap memiliki magnet yang sangat kuat bagi para wisatawan. 

Lawang Sewu yang terletak di bundaran Tugu Muda ini menjadi salah satu bangunan bersejarah di Indonesia, yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau disingkat sebagai NIS. Alasan masyarakat menyebut bangunan ini dengan Lawang Sewu, dikarenakan terdapatnya banyak pintu serta jendela yang tinggi dan lebar. Meskipun pada kenyataannya jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Mungkin kalau ditambah dengan pintu hati kamu yang lembut jadi ada seribu, dek! #eeeaaaakk

Best partnya Lawang Sewu, kaca ukir yang berwarna-warni. Cantik!
Makin rapih ya?! Seneng liatnya
Foto-foto sejarah panjang perkeretaapian Indonesia yang dipajang di lantai satu
Bicara tentang horor, entah saya yang anaknya kurang peka atau karena setiap datang selalu di siang hari, jadi saya tidak merasakan hal yang mistis pada Lawang Sewu. Ya Hamdalah juga sih karena gak dikasih liat yang macem-macem, tapi kalau harus datang sendirian malam-malam ya atuh ngeri juga. Karena selain langit-langit yang super tinggi, pintu-pintu besarnya yang banyak juga gampang bikin parno dan kesasar. Baek-baek deh, pokoknya fikiran harus fokus dan jangan banyak melamun.

Setelah kemerdekaan, bangunan bersejarah dan megah ini dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) yang kini menjadi PT. KAI. Kabar bahagianya, bersamaan dengan kebangkitan PT. KAI pada tahun 2012, setelah sempat berdiri tak terawat kini Lawang Sewu sudah semakin cantik karena diadakannya banyak perbaikan, fungsinyapun sekarangpun gak jauh dari perkeretaapian. Pokoknya sekarang Lawang Sewu sudah berubah menjadi Museum Kereta Api favorite bagi kalian penyuka sejarah. Buktinya saya sempat memposting satu foto di lantai tiga (loteng) Lawang Sewu, dan  salah satu teman berkomentar bahwa dahulu loteng tersebut tidak sebagus seperti saat ini. Pengecatan memang dilakukan pada baja-baja penyanggah atap gedung. Semarang keren! (Baca Juga: Mengenal Warisan Kolonial di Museum Kereta Api Ambarawa)

Bangunan kuno ini sangatlah berarti bagi warga kota Semarang, karena bagaimanapun, Lawang Sewu pernah menjadi saksi peristiwa pertempuran lima hari di Semarang pada 14 Oktober - 19 Oktober 1945. Lawang Sewu menjadi lokasi pertempuran hebat antara pemuda AMKA (angkatan Muda Kereta Api) melawan Kempetai dan Kidobutal, Jepang. Maka gak ada alasan untuk tidak melindungi Lawang Sewu ini bukan?! Masih sangat banyak bangunan bersejarah di kota Semarang, bahkan jumlahnya mencapai 102 bangunan loh?! Dan sepertinya saya mulai ketagihan untuk berwisata sejarah di kota ini. Karena sejarah juga tidak dapat lepas dari keragaman alam dan budaya yang menjadi salah satu Pesona Indonesia :D

Perjalanan ini disponsori penuh oleh Kementerian Pariwisata Indonesia (indonesia.travel) dalam campaign Sapta Nusantara yang berlangsung selama 16 hari. Kalian dapat menyaksikan foto dan video perjalanan yang diabadikan oleh tim Sapta Nusantara di social media  Twitter serta Instagram melalui hashtag #PesonaIndonesia #SaptaNusantara

You Might Also Like

4 komentar

  1. Take me to China donk kakk haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaaah ngeledek, ke Glodok aja udah bagus vel. wkwkwk

      Delete
  2. Kalo orang ke tempat wisata alam, ini malah ke wisata sejarah hahaha..
    (y)
    http://lombokwandertour.com

    ReplyDelete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak :)

Member Of