Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional

3/22/2015 07:43:00 PM

Setelah mengikuti sesi pertama mengenai Pengenalan Budaya Jepang Melalui Upacara Minum Teh di Japan Foundation Jakarta, sayang rasanya kalau saya harus pulang begitu saja. Karena sudah terlanjur datang dan nggak punya cucian dirumah, akhirnya saya lanjut mengikuti sesi kedua yakni Discovering Kimono atau Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional.

Sebelum datang ke acara ini, saya belum mengetahui sama sekali mengenai perbedaan antara pakaian tradisional Yukata dan Kimono, toh bentuknya hampir mirip banget. Tapi keyataannya keduanya memang berbeda, mulai dari waktu, fungsi dan cara pemakaiannya. Soooo, lumayan bangetkan dapet ilmu tambahan tentang budaya Jepang. Karena saya anaknya baik dan suka berbagi maka saya akan share di blogpost ini ya, itung-itung sebagai memo pribadi kalau nantinya saya lupa.

Kimono dengan bentuk obi yang sangat cantik
Yukata adalah jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Bahannya dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, karena yukata biasanya dipakai agar badan menjadi sejuk. Yukata adalah jenis kimono nonformal yang dipakai pria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, seperti yang ada di komik-komik yang digunakan untuk melihat pesta kembang api. Yukata juga dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah.

Untuk warna dan corak, bahan Yukata pria umumnya berwarna dasar gelap (hitam, biru tua, ungu tua) dengan corak garis-garis yang juga warna gelap. Sedangkan wanita biasanya mengenakan yukata dari bahan berwarna dasar cerah dengan corak aneka warna yang terang. Walaupun umumnya dibuat dari kain katun, yukata zaman sekarang juga dibuat dari tekstil campuran.

Berbeda dengan Kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang menjualnya, Yukata siap pakai dalam berbagai ukuran banyak dijual toko dengan harga terjangkau. Sambil menjelaskan ciri dan fungsinya, ditampilkan pula tentang bagaimana cara menggunakannya oleh seorang sensei yang diterbangkan langsung dari kampung halamannya, Jepang.

Cara pemakaiannya
Ketika dipakai pria untuk keluar rumah, yukata biasanya dikenakan tanpa kaus dalam, dan cukup memakai celana dalam atau celana pendek. Berbeda dengan Kimono yang dikenakan dengan dua lapis pakaian dalam hadajuban dan juban, sewaktu mengenakan Yukata, wanita hanya perlu hadajuban (pakaian dalam lapis pertama). Dan alas kaki yang disebut dengan geta.

Yukata dikencangkan ke tubuh dengan memakai Obi yang lebarnya setengah dari lebar Obi untuk kimono jenis lain. Di antara berbagai jenis simpul Obi untuk Yukata, bentuk simpul yang paling populer adalah simpul bunko yang berbentuk kupu-kupu. Bila tidak bisa membuat simpul, toko kimono menjual simpul obi yang sudah jadi dan tinggal disisipkan pada obi.

Obi simpul bunko pada Yukata
Kimono adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah dari kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan. Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "T", mirip dengan mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Untuk wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung.

Penggunaan warna obi dan kimono/yukata harus disesuaikan
Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan yang istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan jenis kimono yang disebut furisode. Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono. Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).

Konon tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur si pemakainya, misalnya status perkawinan.

Perbedaan Kimono dan Yukata pria-wanita
Dari pemjelasan dan informasi yang saya temukan, berikut hal-hal yang dapat membedakan antara Kimono dan Yukata, semoga setelah membaca artikel ini kalian jadi nggak kesulitan untuk membedakan keduanya ya...

  • Kimono dipakai pada kesempatan formal seperti pernikahan, upacara masuk sekolah, atau upacara kedewasaaan tahun baru, sedangkan Yukata dipakai untuk kesempatan santai, seperti berjalan-jalan melihat pesta kembang api, melihat matsuri atau menari di saat perayaan.
  • Kimono memiliki harga yang luar biasa mahal, sementara harga Yukata umumnya terjangkau oleh semua orang.
  • Agak sulit untuk menemukan toko yang menjual Kimono, biasanya harus memesan khusus, berbeda dengan Yukata yang sudah jadi dengan beraneka ukuran banyak dijual toko dengan harga terjangkau.
  • Pada Kimono yang berdasarkan ukuran lebar lengannya dapat diketahui status seorang wanita (sudah menikah atau masih gadis), Yukata dapat dipakai oleh siapa saja tanpa mengenal status.
  • Ketika menggunakan Kimono harus dengan pakaian dalam sebanyak dua lapis (Hadajuban dan Juban),sementara mengenakan Yukata hanya perlu pakaian dalam lapis pertama saja (Hadajuban).


You Might Also Like

0 komentar

Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak :)

Member Of