Our (Smart) Travel Style

1/31/2015 04:05:00 PM

Saya dan Fahmi bukanlah tipe pasangan muda yang berlebihan uang kemudian akhirnya digunakan untuk jalan-jalan, bukan! Saat ini kami berdua pengangguran (bahasa kerennya Freelancer), hanya mengandalkan pekerjaan singkat yang lumayan bisa memenuhi hidup kala nomad. Banyak yang bilang kami ini pasangan 'gila', cuma orang gila yang nggak bilang kita ini gila-memang! Tentu saja ini bukan untuk selamanya, karena saya berfikir bahwa dunia freelance itu penuh dengan paradoks. 

Ketika terlepas dari rutinitas terburu-buru, freelance bisa jadi gaya hidup paling menyenangkan. Tidur pagi bangun sore, pergi kemanapun sesuai mood atau mungkin tidur seharian penuh di dalam kamar. BUT! Dunia freelance kenyataannya tidak senyaman itu dear, ketika harus mengandalkan pendapatan yang nggak menentu. Seperti halnya berdagang, job nggak selalu datang menghampiri, dan pekerjaan bila datang bisa memakan waktu melebihi 8 jam kerja, selamat 'berteman' dengan begadang. So, sila dipertimbangkan kembali bagi yang berniat untuk resign untuk traveling. (Jangan tiru kami)

Sadar akan keterbatasan kami, disini saya akan share mengenai bagaimana style traveling kami selama ini. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, SAMA SEKALI TIDAK! Saya hanya ingin membagi pengalaman atau bahkan pluang yang nantinya mungkin bisa menjadi inspirasi teman-teman blogger (dan pembaca lainnya). Berikut beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika kami traveling bersama.

1. Berbagi Tugas Seperti Riset Destinasi dan Packing Barang Bawaan

Pada kenyataannya ketika ngetrip kami nggak serapih ini :p
Saya yakin bahwa travel blogger bukanlah tipe pejalan yang malas untuk melakukan riset destinasi, karena kalo riset saja malas boro-boro mau menulis perjalanannya di blog. Untuk Riset ini adalah bagian dari tugas Fahmi, yang harus mencari segala macam informasi hingga jalur perjalanan kalau-kalau kami ngetrip dengan sepeda motor. Rekor naik motor kami belum terlalu Waw sih, beberapa diantaranya keliling pulau Lombok, Jakarta-Sawarna-Serang-Jakarta dan Jakarta-Puncak-Sukabumi-Bandung. Dan itu semua tentu dibutuhkan banyak riset jalur.

Untuk perkara packing, seorang istri tentu akan lebih baik ketimbang suami. Peran saya disini harus memasukkan segala macam keperluan kedalam 2 tas, sebanyak apapun harus masuk kedalam 2 tas ini. Satu tas backpack untuk mengangkut 2 laptop, buku, segala jenis gadget serta kabel-kabel yang lumayan semerawut. Dan 1 carrier bag 50 L yang berisi beberapa baju kami berdua, sandal, handuk, sarung, mukena dan segala macam bentuk keperluan, bagaimanapun harus cukup! (saya biasa nyuci baju di wastael kok, jadi baju cuma dua-tiga pasang saja)

2. Iseng-iseng Mengirim Penawaran Kerjasama ke Pihak Hotel

Team work
Prinsip kami rejeki itu nggak bisa cuma selalu ditunggu, tapi juga harus dijemput. Ketika destinasi sudah dipustuskan, selanjutnya saya memiliki tugas untuk mencari kontak person/email dari berbagai macam hotel untuk nantinya akan kami kirimi proposal penawaran kerjasama, bentuknya tentu dengan bertukar review dan staycation gratis.

Fahmi bertugas membuat draftya sedangkan saya yang akan mengiriminya satu-persatu sesuai dengan jenis hotel yang dituju. Karena tiap hotel memiliki karakter yang berbeda-beda, maka isi brief penawarannyapun akan berbeda pula. ENAK ya dapet hotel gratisan! mohon dipertimbangkan kembali kata ENAK tersebut, karena selain memiliki PR mereview/livetweet perbandingannya dari 11 email yang dikirim hanya ada 1 yang merespon. Sisanya?! Belum rejeki (dan serius capek). Karena bagaimanapun tetap paling enak traveling atau sewa hotel dengan uang sendiri tanpa ada tugas yang membebani.

3. Nggak Harus Pergi ke Luar Negeri atau Destinasi Eksotis Yang Mahal

Karna ngemoll juga bisa jadi jalan-jalan :p
Berhubung kami pejalan yang memang sangat pas-pasan, jalan-jalan ke Kepulauan Seribu atau Museum-Museum Jakartapun bisa menjadi pilihan menarik. Toh saya ke luar negeri cuma kalo dapet tiket promo saja, Fahmipun kebanyakan gratisan. Seperti Bandung yang menjadi tempat stay kami saat ini, masih banyak tempat yang belum kami explore seluruhnya. Destinasi menjadi tidak lagi begitu penting ketika kita traveling dengan travelmate, bukan?! 

4. Mensiasati Biaya Akomodasi dan Transportasi

Inilah tampilan asli ketika dijalan (dekil)
Ketika #Backpackmoon ke Gili Trawangan beberapa waktu lalu, selama 13 hari perjalanan kami sama sekali tidak menggunakan jasa pesawat terbang. Selain karena memang hobby kami menikmati perjalanan jalur darat, juga karena pertimbangan penghematan. Start dari Malang kami naik Kereta Api Ekonomi Tawangalun, dimana lama waktu perjalanan selama 8 jam untuk tiba di Banyuwangi. Kereta ekonomi yang sangat murah memang mengorbankan kenyamanan punggung, dengan kursi tegak 90 derajatnya sangat mudah untuk buat pegal linu. Maka kami biasa memesan 4 kursi sekaligus (biar bisa tidur-tidur), karena 4 tiket ekonomi tetap lebih murah ketimbang 2 tiket kereta eksekutif, silahkan mencoba! Toh katanya jodoh traveler itu gampang diajak susah kan?!

5. Sewa Motor Selalu Menjadi Pilihan Dimanapun

Kami bukan anak motor, tapi suka bawa motor kemanapun :)
Sewa motor ini juga masih masuk ke dalam strategi menekan biaya akomodasi dan transportasi, tapi saya memisahkannya karena sudah banyak yang bertanya ke saya pribadi sehingga akan saya jabar agar lebih jelas. Kini informasi penyewaan motor di internet sudah sangat banyak di tiap daerah, maka manfaatkanlah itu. Ketika di Lombok, dua kali kami menggunakan jasa penyewaan motor, asiknya karena mereka biasanya nggak keberatan untuk mengantar sampai bandara ataupun hotel tempat kami menginap. 

Atau meminta bantuan staff hotel memesannyapun bisa, karena pihak hotel pasti sudah memiliki langganan. Tapi nggak tau jalan?! Jangan manja, pakai GPS! Kalau tetap takut nyasar, bawalah peta atau banyak bertanya. Disarankan untuk merequest motor matic supaya mudah untuk membawa beban tas di area depan sepeda motor.

6. Selalu Impulsif dan Slow Travel Addict, Sangat Tidak Bisa Untuk Terburu-Buru

Hari ini A besok bisa Z
Jadi awal rencana kami adalah roadtrip overland java dengan sepeda motor dari Jakarta sampai Blitar (Jawa Timur), namun dikarenakan secara tiba-tiba jatuh cinta dengan kota Bandung (karena memang jalurnya melewati Bandung) alhasil kami sudah menetap disini hampir dua bulan lamanya. Selain adanya beberapa pekerjaan yang megharuskan bolak/i ke ibukota, rencana roadtrip pun akhirnya tertunda hingga waktu yang tidak bisa ditentukan dan masih betah menyusuri seluruh kota Bandung ini hingga bosan ;)

7. Blogging Everywhere

Ngeblog adalah dimanapun
Kedua laptop kami harus slalu dibawa kemanapun, karena disanalah pendanaan rumah tangga ini bersumber. Kami bertemu di dunia blogging hingga akhirnya sampai menikah, dan itu membuat kami nggak mau berhenti untuk ngeblog dimanapun dan kapanpun. Saling mensupport satu sama lain, seperti Fahmi yang menganggap blog saya tidak pernah bagus di matanya, saya tau jelas bahwa itu hanya salah satu cara untuk membuat saya tetap konsisten pada 'rumah' saya sendiri ini.

You Might Also Like

11 komentar

  1. Replies
    1. Kakak calah komennya kok irit bener sih. hkssss

      Delete
  2. Inspiring kak ! Semoga bisa dapet jodoh yg punya hobi dan visi yang sama kaya gini, amiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin! Butuh di comblangin gak?! #eh

      Delete
  3. pengen coba...
    tapi nyari pasangan dulu, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak kak itu barusan kak Rinaldi juga lagi cari jodoh kak. Kenalan gih muekekek

      Delete
    2. ayoo ayoo....
      qiqiqiqiqi

      Delete
  4. Blog tidak dianggap bagus,memang cara paling efektif untuk bikin selalu mau belajar lagi dan belajar lagi... *high five!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh jadi kak titi setuju sama fahmi kalo blog ku jelek?! huhuuu

      hehehe mohon bimbingannya ya kak :D

      Delete
  5. siipp... boleh dicoba tuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Irma aja yaa, jangan yang lain loh tim :p

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak :)

Member Of